Buah Tangan dari Jakarta 2018 #1 2019
Medium
Ink and pencil on paper.
Dimensi
50 x 70 cm.
Kategori
Keseharian dan nilai2 yang tidak terlihat suatu masyarakat pun terbentuk karena nilai2 yang diwariskan secara tidak sadar, dalam bentuk keadaan geografis, sejarah, dan juga bagaimana cara mereka berkomunikasi. Hal itu entah kenapa menjadi hal yang menarik bagiku untuk mencoba merepresentasikan bagaimana sebenarnya masyarakat kebanyakan dimasing-masing tempat memiliki caranya tersendiri dalam menjalani keseharian dalam hidupnya. 

Mungkin akan jauh lebih sederhana dan kontekstual seandainya yang disajikan dalam sebuah karya tersebut adalah bentuk-bentuk yang mudah dikenali, baik menggambarkan atau menyimbolkan sebuah tempat. Tetapi entah mengapa saya justru jauh lebih tertarik untuk menangkap dan menggambarkan ulang kesan yang saya terima pada saat saya tinggal dan melebur dengan tempat tersebut. 

Pada tahun 2018 saya berkesempatan untuk tinggal disana selama 6 bulan, dan tempat yang saya tinggali pun bisa dikatakan salah satu pusat aktifitas dan keramaian masyarakat kebanyakan (kelas menengah). Yaitu di Tanah Abang, menyenangkan karena banyak hal yang bisa saya tangkap baik itu berupa gambar ataupun kesan. Dan mungkin untuk beberapa waktu aset-aset tersebut pun entah mengapa tidak saya sentuh, dan baru terpikirkan untuk mengolahnya sekarang-sekarang ini. 

Menjait gambar-gambar yang ditangkap, dan mencoba membuat narasi yang mengambang rupanya berujung kepada kemungkinan presentasi visual karya yang baru yang cenderung mampu untuk menggambarkan ulang sebuah tempat ataupun lokasi. Meskipun masih terkesan sangat subjektif, tetapi adanya harapan akan mampu membuat sebuah relasi baru dari tanda-tanda rupa yang disajikan. 

Buah Tangan Dari Jakarta 2018 #1 

Pada eksperimen pertama ini, saya mencoba untuk menggambarkan sebuah perasaan paling awal yang saya dapatkan pada saat saya tinggal di Jakarta. Adanya kemeriahan dimasing-masing sudut yang dapat saya pandang. Hal itu lah yang pertama kali saya tangkap. Kemeriahan yang rasanya sangat berisik sekali, dan sama sekali hanya ada rasa frustasi yang ada diudara. Iya ditempat saya tinggal, semua orang sibuk untuk berjualan dan bertahan hidup disana. Kegiatan-kegiatan dan interaksi yang disana menjadi. 

Tetapi juga ada perasaan sepi yang hadir. Karena, mungkin karena banyaknya interaksi-interaksi yang terjadi disana berdasarkan kepentingan. Ya mungkin hal tersebut pun tidak bisa disalahkan juga, dan tidak sedikit juga yang berujung menjalin ikatan. 

Kedua hal tersebutlah yang coba saya gambarkan dalam eksperimen pertama ini. Pertama mencoba menggambarkan keterasingan yang muncul (untuk orang-orang yang mencoba mencari ikatan dan bersungguh-sungguh pada saat sedang membangung percakapan) akibat betapa riuhnya dan saling bertubrukannya berbagai macam kepentingan disana. Kedua mencoba menggambarkan rasa sepi lainnya, yang muncul akibat tiba-tiba termenung tentang banyak hal lainnya meskipun sedang berada dalam keriuhan.