The existential #2: The Time 2019
Medium
Tinta, cat akrilik, cat aerosol pada kanvas.
Dimensi
95 x 75 cm.
Kategori
Dalam karya berikut pengalaman trance masih bertolak pada ajaran sangkan paraning dumadi yang mengulas khaos pada mikrokosmos manusia dan makrokosmos semesta. Teori khaos lahir dari rasa ingin tahu manusia terhadap yang akan datang. Kita selalu menanyakan bagaimana sebuah sistem berubah dari waktu ke waktu. Di dalam teori khaos manusia menemukan bahwa terkadang sebuah perubahan tidaklah serumit sebagaimana ia terlihat. Bahkan dari sistem yang secara matematis sangat sederhana sekalipun dapat dihasilkan pola-pola yang khaotik. Khaos menunjukkan ketidakberaturan, kekacauan, keacakan atau kebetulan, yaitu: gerakan acak tanpa tujuan, kegunaan atau prinsip tertentu. Alam semesta yang bersifat dinamis ini kelihatannya bekerja secara linier dan tidak dapat dipahami melalui sistem linier, seperti awan, pohon, garis pantai, ombak dan lain sebagainya, yang secara sekilas menampakkan acak dan tidak teratur. Sistem seperti inilah yang dinamakan dengan teori khaos (sistem yang tidak dapat diprediksi berdasarkan kondisi awal). Sistem khaotik dapat ditentukan secara matematis, hal ini disebabkan sistem khaotik mengikuti hukum-hukum yang berlaku di alam. Hanya saja, karena sifatnya yang tidak teratur maka dilihat sebagai peristiwa acak. Khaos dapat ditemukan pada berbagai sistem umum, mulai dari sitem yang sederhana seperti gerak pendulum sampai sistem yang kompleks seperti: irama detak jantung, aktivitas listrik pada otak, dan lain sebagainya. Jadi, tidak seperti yang dipersepsikan banyak orang yang selalu mengaitkan khaos dengan ketidakberaturan. Bahkan, di dalam khaos sekalipun tersimpan keteraturan. Pendek kata, teori khaos sebenarnya berbicara tentang keteraturan, bukan ketidakberaturan.