Fluxcup
l. 2011, Bandung, Jawa Barat.
Kita dihadapkan dengan sebuah realitas era informatika yang penuh dengan sumber pengetahuan dengan kemungkinannya yang tak terbatas (baca : Internet). Kemudahan mendapatkan/berbagi informasi bagi para pengguna internet identik dengan budaya daur ulang, potong, tempel, remix, unggah dan unduh. Yang kita butuhkan hanya mata, kamera, smartphone, komputer, otak dan cara pandang kita untuk menghasilkan respon.

Berangkat dari kegencaran teknologi informasi di internet beserta kemudahan dan teror didalamnya, Saya menggunakan Internet sebagai salah satu instrumen sekaligus wilayah berkarya untuk ikut (aja dulu) merayakan budaya spectator (menonton dan menonton). Karena budaya menonton selalu menjadi kegelisahan dan selalu menjadi sebuah pertanyaan besar tentang kendali tontonan itu sendiri. Yang merupakan sebuah kepedulian saya akan substansi energi (positif/negatif) yang di konsumsi masyarakat tontonan. Bentuk tontonan media yang marak di dunia adalah dari mulai bioskop, televisi, hingga perpanjangan tangannya yang menjadikan tontonan tersebut kian mudah dikonsumsi dan diproduksi oleh siapa saja. Dalam hal ini semua orang menjadi keduanya, konsumen dan produsen.

Dalam disiplinnya, saya melakukan uji eksperimen dengan memberikan tontonan alternatif pada audiens yang punya tabungan memori/imaji yang sudah mereka terima sebelumya, yang kemudian saya intervensi medan psikologis dan sosialnya lewat permainan pengacakkan persepsi dan ekspektasi. Saya merekonstruksi ulang imaji-imaji tersebut dengan cara yang cukup pasaran dan murahan seperti lipsync, subtitling, dubbing, assembling, mash up, remix, bahkan membuat video durasi pendek yang cukup mencuci otak dengan konsep sederhana. Dengan metode kerja saya yang demikian, keleluasaan saya dalam mengolah benda-benda temuan (found object dan ready-made objects) di Internet dengan proses kreasi yang cukup signifikan. Fluxcup Channel (youtube) adalah sebuah kanal pribadi yang saya gunakan sebagai tempat memajang karya-karya video saya alias Galeri. Pendekatan komedi banal, absurd, pesan-pesan distortif dengan penyampaian yang terkesan norak, justru saya jadikan sebagai salah satu jurus dalam berkarya.

Fluxcup Institute 

Butuh waktu lama untuk berkarya dengan karakter ini, apalagi dengan passion yang muluk-muluk ingin mengubah cara pandang lapisan masyarakat dalam menyikapi tontonan, tetap persuasif dengan segmentasi target pasar yang juga signifikan. Maka dari itu munculah Fluxcup Institute yaitu sebuah wadah untuk siapa saja yang tertarik untuk melakukan disiplin kekaryaan ala-ala Fluxcup.
Karya dari Fluxcup