Natas Setiabudhi
l. 1973, Bandung, Jawa Barat.
Natas Setiabudhi lahir di Bandung pada tanggal 6 Agustus 1973. Selain sebagai seniman, sejak tahun 2013 ia juga mengajar di almamaternya (prodi kriya FSRD ITB). Pameran yang diikuti bukan hanya dalam konteks kesenian kontemporer saja, tapi seringkali ia ikut berpartisipasi dalam pameran-pameran produk menjual produk kriya seperti benda-benda keramik tableware. Natas memiliki workshop sendiri dalam memproduksi karya dan produknya. Ia memiliki beberapa alat produksi dan beberapa tungku pembakaran keramik serta memiliki satu orang artisan. Beberapa pameran kesenian yang pernah diikutinya diantaranya Jakarta Contemporary Ceramic Biennale yang ke-1, ke-2 dan ke-3. Natas pernah dua kali melakukan solo exhibition, tahun 2010 di S14 Bandung yang bertajuk “Landscape #2” dan tahun 2018 di Orbital Gallery Bandung yang bertajuk “Ordo Geometric”. Selain di dalam negri, ia pernah melakukan pameran di luar, yaitu di Filipina, Pakistan, dan Jerman. Untuk pameran produk, Natas pernah mendapatkan penghargaan sebagai produk craft terbaik di ajang IFEX (Indonesia International Furniture Expo) di tahun 2016. Selain itu Natas pernah melakukan residensi di JAF (Jatiwangi Art Factory) tahun 2010 dan di Kunstlerhause Staddtopferi, Neumunster, Germany pada tahun 2017.

Pencapaian lainnya adalah salah satu karyanya menjadi koleksi dari Museum Balai Kirti, Istana Bogor. Selain itu karya pada saat pameran tunggal di S 14 dibeli oleh pihak mesjid Ibnu Saif Bandung. Jumlah module keramik sebanyak 600 buah dipasang di mihrab mesjid tersebut. Dan ada beberapa karya lain yang juga dikoleksi secara pribadi.

Karya Natas memiliki karakteristiknya sendiri. Karyanya selalu menempel di dinding, keramiknya selalu putih, bentuknya abstrak geometris, dan berulang-ulang. Ciri tersebut sudah dilakukannya sejak tahun 2008 dan sampai sekarang masih dilakukan. Secara konvensional sebuah karya 3 dimensional biasanya diinstal di atas base, pedestal atau lantai. Pada tahun 2017, ia mulai kembali membuat karya yang disimpan di atas base. Ini merupakan sebuah hal yang normal dan alamiah, seseorang akan kembali ke asalnya. Meski demikian karya-karya yang dipasang di dinding tidak ditinggalkan sepenuhnya, masih dilakukan sesekali.
Karya dari Natas Setiabudhi