Wilman Hermana
l. 1982, Bandung, Jawa Barat.
Wilman Hermana lahir di Bandung 1 Februari 1982 atau yang akrab di sapa omen, adalah seniman dan edukator yang aktif berkarya dan berbasis di Bandung. Selama kurang lebih 10 tahun, ia aktif berkarya menggunakan beragam material dengan fokus media pada karya- karya trimatra. Ia menyelesaikan studi sarjana di studio patung, program studio seni murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung pata tahun 2007. Selepas lulus ia sempat bekerja bersama Nyoman Nuarta, seniman patung senior di Bandung selama kurang lebih dua tahun dan menggarap bagian tangan patung GWK (Garuda Wisnu Kencana). Selain aktif berkarya dan terlibat dalam sejumlah pameran seni, Wilman juga peduli pada persoalan edukasi seni bagi anak-anak di tingkat formal yang menurutnya dirasa kurang ideal di Indonesia. Ia kemudian membuka lembaga edukasi bernama semAta gallery yang fokus pada pengajaran seni rupa pada anak-anak. pada tahun 2015 Wilman kembali melanjutkan studi magister di jurusan yang sama di Sekolah Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung. Selepas lulus di tingkat master, ia kembali aktif berpartisipasi baik sebagai seniman, educator di tataran informal dan formal, serta sebagai penyelenggara pameran hingga saat ini. Dalam rentang karirnya juga wilman sempat diminta untuk membuat karya- karya patung publik, antara lain Patung Nanas, Patung Sisingaan, Patung Sepeda, dan Patung Ikan Selais yang berada dibeberapa kota di Indonesia.

Secara umum wacana besar yang konsisten direspon oleh Wilman adalah maskulinitas. Pada periode kekaryaan awal, wacana maskulinitas ini ia manifestasikan dalam tema karya yang merespon persoalan militer dan kekuasaan. Salah satu aspek yang juga Wilman respon pada periode ini adalah persoalan tubuh maskulin yang kal itu masih ia eksplorasi di tataran konvensional, dimana maskulinitas masih diidentifikasi dengan kekuatan dan dominasi. Seiring berjalannya waktu, Wilman kemudian mulai menyadari bahwa saat ini konsep maskulinitas telah terdekonstruksi. Maskulinitas tidak lagi diperbandingkan secara diametral dengan citra feminin sebagai sebuah dikotomi. Maskulinitas mutakhir menurutnya telah menjadi sebuah spectrum dan kontinum. Tidak lagi menjadi sebuah bangunan monolik dengan karakter dan identitasnya yang ajeg dan manunggal, melainkan menjadi cair dan berkelindan. Maskulinitas tidak selalu harus ditampilkan dengan proporsi tubuh yang maskular, melainkan dapat ditampilkan secara ‘neuter/netral’ melalui tubuh yang tinggi semampai dan padupadan busana yang sesuai. Wilman melihat bahwa meski posisi citra
maskulin yang ‘konvensional’ masih pula tersebar dan diterima di publik, setidaknya saat ini konsep maskulinitas telah menjadi lebih plural.
Karya dari Wilman Hermana