ART_UNLTD: Seni Rupa yang Luas dan Luwes
Menurut perkiraan -dengan membandingkan beberapa sumber- ada sekitar 2000-an lebih orang Indonesia yang secara profesional tergolong perupa. Ini mungkin masih bertambah terus setiap tahun dengan adanya lulusan dari perguruan tinggi seni rupa atau yang sejenis. Sementara jumlah galeri seni rupa (komersial) di Indonesia diperkirakan berjumlah 50, dan tidak semuanya aktif menyelenggarakan acara pameran atau acara seni rupa sejenis secara teratur. Dari perbandingan jumlah ini segera terhitung bahwa banyak perupa -khususnya yang baru memulai karir secara profesional- akan selalu berhadapan dengan masalah keterbatasan peluang untuk menyiarkan dan menyalurkan karya-karyanya agar dapat bertemu dengan masyarakat luas, khususnya para peminat karya seni rupa.
Di sisi lain, praktik seni rupa juga terus berkembang. Saat ini, sudah lazim bahwa yang disebut karya seni rupa tidak lagi hanya terbatas berupa lukisan dan patung saja. Generasi baru perupa Indonesia menyerap teknologi dan informasi yang serba cepat dan melimpah. Segala macam pengaruh itu masuk ke dalam pemahaman dan praktik berkarya. Maka seni rupa masa kini jadi serba terbuka. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa seni rupa dalam ranah sosial-kultural Indonesia memang selalu berlaku sebagai sebentuk kerja penciptaan terbuka, merangkum berbagai variasi dan kombinasi yang serba luwes antara seni rupa, desain, dan kriya. Dengan demikian seni rupa dapat melibatkan beragam unsur rupa, bermacam unsur bahan, serta segala rupa teknik dan keterampilan untuk mengolahnya. Semuanya memberi peluang kepada para perupa masa kini untuk menghadirkan beragam gagasan, tema, bahan, teknik, yang dapat memperkaya ragam bentuk karya seni rupa masa kini.
Kebaruan dan pembaruan adalah hal yang pantas diupayakan terus-menerus untuk menjamin praktik seni rupa yang berkembang. Pada saat bersamaan, semua itu perlu diperkenalkan kepada publik peminat seni rupa agar dapat menghargai dan memahami beragam jenis karya seni rupa masa kini.
Soal terakhir, terkait harga dan daya beli. Karya seni rupa masa kini terlanjur dipahami sebagai sejenis produk berharga tinggi, atau bahkan tinggi sekali. Ini membuatnya jadi sasaran perhatian -dengan kekaguman sekaligus kecurigaan- masyarakat umum. Juga, membuat jeri orang-orang yang berminat, yang ingin menikmati dan memiliki karya seni rupa, tapi tidak punya atau tidak mau menyisihkan dana yang terlampau besar untuk keperluan ini. Padahal, dalam kenyataan, sama seperti berbagai jenis produk di pasar, ada banyak karya seni rupa baik dan bermutu yang harganya boleh jadi sangat terjangkau.
Untuk merespons hal-hal tersebut di atas, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengambil peran aktif dan strategis: menyediakan platform bagi semua perupa dan pelaku seni rupa lain agar karya-karyanya dapat bertemu dan dinikmati publik, sebagai upaya untuk memperluas pasar seni rupa Indonesia. Menggandeng Asmudjo J. Irianto, Enin Supriyanto, Irawan Kareno, dan Totot Indrarto sebagai Kurator/Tim Artistik, untuk pertama kalinya Art Unlimited (ART_UNLTD) diperkenalkan pada Art Jakarta 2018, 2-5 Agustus lalu, di The Ritz Carlton Jakarta.
Berikutnya, gelaran ART_UNLTD diselenggarakan 15-23 Desember 2018 di Gedung PGN, Jalan Braga, di Bandung -diselenggarakan bersama ArtSociates Indonesia- merupakan program mandiri pertama yang merangkum keluasan dan keluwesan dunia seni rupa Indonesia sesuai namanya: seni rupa tak terbatas untuk semua kalangan.
Kurator
Asmujo Jono Irianto
Irawan Karseno
Totot Indrarto
--
ART _UNLTD
ART _UNLTD